Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Rochadi Tawaf, mengatakan bahwa saat ini pengusaha tidak lagi tertarik berinvestasi di budidaya sapi (on farm). Penyebabnya adalah nilai tambah yang diperoleh sangat kecil dan harus menanggung risiko yang cukup besar jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh di tingkat pasca panen (off farm) dan pengolahan (processing).
Selain itu juga masalah efisiensi. Berbeda dengan peternakan di Australia yang dikelola dalam skala besar, usaha budidaya sapi di Tanah Air adalah usaha sampingan dengan skala kecil dan rumah tangga. Akibatnya, budidaya sapi di Indonesia tidak efisien dan nilai tambah yang diperoleh menjadi kecil. Belum lagi persoalan pengembangan peternakan sapi di dalam negeri, seperti pembibitan dan infrastruktur. Jika persoalan ini dibebankan kepada swasta, maka pengembangan ternak sapi tidak akan berjalan
Oleh sebab itu, menjadi tugas Pemerintah, untuk mengembangkan pembibitan sapi serta membenahi infrastruktur, sehingga sapi lokal semakin kompetitif dan pelaku usaha di tingkat budidaya akan mendapatkan keuntungan. Pemerintah memang telah memberikan subsidi bunga melalui skim Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS). Namun, sedikit peternak yang dapat mengaksesnya, karena persyaratan perbankan yang masih tetap menyulitkan peternak kecil
Sumber : bisnis.com;19/01/2011;"Nilai tambah budidaya sapi lebih kecil dari keuntungan pascapanen"
Yth. Bapak /IbuKami Selaku Distributor Di Wilayah Jabodetabek Ingin menawarkan Produk kami Yaitu Susu ProFat ( Formula Penggemuk Hewan Ternak Dan Hewa... Read more
Saya hendak memulai usaha di bidang peternakan sapi. Bagaimanakah untuk mendapatkan database peterna...
Read more