Berdagang daging sapi, adalah satu profesi yang mensyaratkan pengalaman yang cukup luas dan memadai.
Dimulai dari pengadaan sapi hidup, memilih sapi yang bagus, menjalin mitra dengan RPH dan cara memasarkan daging sapi itu sendiri.
Di pasar tradisional, daging sapi dipasarkan disatu tempat atau meja pada satu lokasi yang memang khusus disediakan untuk keperluan tersebut.
Tempat/meja ini biasa disebut sebagai “Los”. Sebagian besar Los, merupakan warisan turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya, bahkan hingga 3 generasi.
Demikian juga dengan konsumennya. Konsumen daging sapi di pasar tradisional terdiri dari para pembuat bakso (baso), pemilik restoran dan catering, dan ibu rumah tangga. Namun pangsa pasar daging sapi terbesar adalah pedagang bakso ini, dengan persentase mencapai 90% dari jumlah total pembeli. Para pembuat bakso ini rata-rata telah menjalin hubungan yang cukup lama dengan pemasoknya.
Dengan kondisi tersebut, sangat sulit bagi bagi pendatang baru, untuk mendapatkan kesempatan menjual daging sapi di pasar yang telah ada.
Sebelum daging sapi mencapai pasar tradisional, ada beberapa mata rantai yang memasok komoditi tersebut, yaitu :
1.Peternak Tingkat III
Yang dimaksud dengan Peternak tingkat III, adalah peternak yang telah menjalankan usaha dengan beberapa fasilitas pendukung yaitu unit pengolahan pakan ternak sendiri dan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang dikelola sendiri atau bekerjasama dengan RPH swasta. Peternak sapi yang telah mencapai tingkatan ini umumnya memiliki hubungan langsung dengan konsumen.
2.Pejagal
Pejagal adalah salah satu mata rantai pasok yang membeli sapi untuk memenuhi pesanan daging dari konsumennya secara langsung. Untuk menjadi pejagal yang berhasil, harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk menghitung kebutuhan daging serta keuntungan yang akan diperoleh dari ternak sapi yang dibeli.
Untuk menentukan harga beli, penjagal harus memperhitungkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan, antara lain : biaya pengangkutan sapi dari tempat pembelian, pengawalan, tenaga kerja di RPH (umumnya tidak di upah dengan uang melainkan daging sapi hasil pemotongan), restribusi pemotongan, perawatan di RPH (+/- 3 hari). Selain itu ada keuntungan lain yang harus diperhitungkan, yaitu hasil penjualan : kepala, kaki dan kulit.
Dengan cara perhitungan seperti tersebut diatas, keuntungan penjagal setiap hari akan sangat bervariasi, tergantung kepada jumlah pesanan daging, jumlah sapi yang dipotong serta cara "menghitung" biaya.
Kondisi seperti ini sesungguhnya dapat dipelajari untuk mengetahui perilaku atau kecenderungan pasar. Namun karena sifat usahanya masih tradisonal, jarang sekali penjagal yang memiliki buku catatan, transaksi hanya ditulis diatas selembar bon pembelian atau pengiriman yang kemudian dibuang setelah proses pembayaran selesai.
3.Pedagang Daging Sapi
Terdapat tiga kelas pedagang berdasarkan volume penjualan yaitu :
a.Pedagang Besar; yaitu pedagang yang menjual minimal 3 ekor. Pedagang besar mendapatkan daging sapi dengan cara membeli sapi hidup kemudian memotongnya di RPH milik pribadi atau di RPH pemerintah maupun swasta
b.Pedagang Sedang, total penjualan 1 sampai 2 ekor, dengan cara sama seperti pedagang besar, hanya beda di masalah volume pembelian saja.
c.Pedagang Kecil (Pengecer); Pedagang ini hanya menjual daging sapi antara 30 kg sampai dengan 100 kg daging sapi, yang didapat dari pedagang besar atau sedang.
Di pasar tradisional daging tidak dikemas, tetapi dijual dalam bentuk potongan (parting) dan harus selalu dalam keadaan segar. Ketergantungan pedagang pada pelanggan sesungguhnya cukup besar. Dengan memiliki pelanggan maka pedagang akan mengetahui secara pasti jumlah daging yang dibutuhkan.
Tujuannya agar tidak ada daging sapi yang tersisa. Di pasar tradisional, daging sapi memiliki nilai jual cukup bagus hanya dalam waktu 12 jam setelah pemotongan. Jika waktu 12 jam terlewati, maka daging sapi tersebut dikategorikan sebagai daging yang telah layu.
Oleh sebab itu, jika telah mendekati kadaluwarsa dan daging belum juga terjual, pedagang akan segera menawarkannya kepada pedagang abon atau dendeng, dengan harga yang sedikit lebih murah. Jika masih tersisa juga, maka sebagai upaya terakhir adalah menyimpannya kedalam kulkas untuk menghindari kebusukan.
Namun sayangnya, daging yang telah disimpan di kulkas ini tidak lagi dikehendaki oleh para pedagang bakso yang merupakan konsumen utama. Penyebabnya adalah, bakso yang dibuat dari daging yang telah layu atau yang telah disimpan di dalam lemari es cenderung tidak kenyal bahkan mudah sekali hancur. Hal ini tentu saja tidak dikehendaki oleh mereka.
Sumber :
Kami dari CV.Karunia Artha Mandiri - LAMONGAN , menawarkan bahan baku untuk pakan Sapi ( Bungkil Sawit - Tepung Ikan Murni - atau Kulit Buah Kopi ) . ... Read more
Pak..kami adalah peternak sapi perah yang baru. Lokasi kami di daerah perkebunan kelapa sawit dan us...
Read more