Pemotongan Sapi Tradisional
Last Updated on
Friday, 03 February 2012 20:41
Wednesday, 28 July 2010 07:00
Written by P. Abrianto W. W
Pemotongan sapi secara tradisonal adalah pemotongan sapi dengan metoda yang sangat sederhana dengan menggunakan peralatan seadanya seperti pisau pemotong dan tali.
Sebenarnya prinsipnya hampir sama dengan cara pemotongan yang lebih modern yaitu membuat sapi yang akan dipotong tidak berdaya untuk mempermudah proses pemotongan. Perbedaan yang utama adalah pada teknik untuk melumpuhkan sapi.
Pada pemotongan sapi secara tradisional, tekniknya adalah dengan mengikat seutas tali pada kaki bagian depan dan atau belakang kemudian ditarik dari arah yang berlawanan dengan posisi kaki tersebut. Apabila yang diikat adalah kaki kanan, maka tali akan ditarik dari sebelah kiri,demikian juga sebaliknya. Dengan perlakuan ini, sapi akan terjatuh, untuk selanjutnya akan dengan mudah dipotong.
Resiko yang ada dengan teknik pemotongan ini adalah, sapi tetap dapat meronta-ronta. Apabila tidak hati-hati, orang yang memotong akan mendapat cedera serius apabila terkena tendangan dari sapi yang akan dipotong ini.
Teknik pemotongan tradisional memang sudah dijalankan sejak jaman dahulu. Walaupun pemerintah telah memberikan Prosedur Standar Operasional Pemotongan Sapi, praktek ini tetap dijalankan pada beberapa lokasi. Kerugian yang diakibatkan teknik pemotongan secara tradisional ini juga cukup banyak, seperti :
- Kebersihan dari daging sapi yang dihasilkan tidak terjamin, karena teknik pemotongan tradisional tidak mengindahkan hygiene dan sanitasi. Tempat pemotongan biasanya hanya ala kadarnya, bahkan pada beberapa tempat malah masih menggunakan alas berupa tanah, selain itu juga jarang sekali dibersihkan.
- Daging sapi yang dihasilkan rawan tertular penyakit berbahaya, yang berasal dari peralatan pemotongan maupun tempat pemotongan.
- Daging cepat membusuk karena energi sapi dalam bentuk glipogen habis digunakan untuk menahan sakit. Jika kadar glipogen ini rendah dampaknya daging cepat rusak (membusuk).
- Jarang sekali yang memenuhi standar halal, dan pada beberapa kasus, orang yang memotong malas menggunakan tali dan mencari jalan pintas dengan menyayat bagian kaki untuk memutuskan ototnya, dengan kondisi demikian sapi akan langsung terjatuh dan dapat dipotong.
- Semua praktek-praktek diatas sesungguhnya tidak memenuhi azaz kesejahteraan ternak (animal welfare), yaitu suatu usaha untuk memberikan kondisi lingkungan yang sesuai bagi satwa sehingga berdampak ada peningkatan sistem psikologi dan fisiologi satwa, yang telah disyaratkan oleh pemerintah.
Sumber :
- poultryindonesia.com
- Koranpdhi.com
- ujecentre.com
- newnigerianpolitics.com
- wikipedia.org
Related news items:
Newer news items:
Older news items:
Add comment