RAGAM INFORMASI

TENTANG DUNIA PERSAPIAN

Ini Bukan Bisnis Sapi Biasa, Untungnya Bisa Ratusan Juta

Ayo buktikan sendiri di Pulau Sapudi. Pulau ini berada diantara gugusan pulau-pulau di sebelah timur Pulau Madura. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Sapudi merupakan pulau terluas kedua setelah Pulau Kangean dan merupakan pulau dengan penduduk terbanyak. Pulau ini terbagi atas dua kecamatan, yaitu Nonggunong di bagian utara dengan luas wilayah 40,1 Km2. Dan Kecamatan Gayam dibagian selatan dengan luas wilayah 88,4 Km2.

Berdasarkan catatan sejarah, Pulau Sapudi bermakna 'Pulau Sapi', karena banyaknya jumlah sapi di wilayah tersebut. beternak sapi menjadi mata pencaharian utama bagi penduduknya. Sapudi juga terkenal sebagai sumber sapi unggul yang selalu menjadi  juara dalam lomba kerapan, baik di tingkat Kabupaten maupun tingkat wilker (wilayah kerapan) di Madura yang meliputi Kab. Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Kab. Bangkalan.

Pada tahun 1918 populasi sapinya mencapai 713.126 ekor. Tiga tahun kemudian atau tepatnya tahun 1921, jumlahnya meningkat. Tiap kilometer rata-rata terdapat 112 ekor. Saat ini diperkirakan ada sekitar 175 ekor sapi untuk setiap kilometer luas wilayahnya.

Jumlah sapi di Pulau Sapudi seperti tidak ada habisnya. Padahal, setiap minggu setidaknya ada 500 ekor sapi yang dijual ke luar pulau, baik yang ada di wilayah Sumenep dan sekitarnya maupun di luar Madura. Sedangkan waktu produksi ternak sapi biasanya berkisar antara 7 sampai 8 bulan sekali.

Meski demikian, tidak semua desa bisa menghasilkan bibit sapi unggul yang bisa menghasilkan untung luar biasa besar bagi peternaknya. Para peternak sapi unggul yang umum disebut sebagai sapi kerap bisa mencapai Rp100 juta per 3 bulan periode pemeliharaan. Sapi kerap memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan sapi ada umumnya. Yang bisa mengetahuinya adalah para ahli sapi dengan segudang pengalaman, bukan hanya sekedar teori.

Salah satu pakar Sapi Kerap adalah Bapak Sannah, yang diakui sebagai peternak paling senior di Pulau Sapudi. Dia berdomisili di Desa Rosong, Kecamatan Nonggunong, Pulau Sapudi. Menurutnya, hanya ada tiga desa yang bisa melahirkan bibit unggul Sapi Kerap yaitu: Desa Rosong, Desa Talaga, dan Desa Sokaramme Paseser. Ia menjamin bahwa bibit Sapi Kerap berasal dari tiga desa itu, pasti bisa lari sangat kencang.

Ia membeberkan bagaimana cara mempersiapkan bibit sapi agar laku dijual ke pecinta Kerapan Sapi, termasuk hitung-hitungannya dari mulai membeli bibit. Biasanya, Bapak Sannah membeli 2 ekor bibit sapi kerap usia 6 bulan dengan harga Rp30 juta.

Selanjutnya ia akan merawat dan segera melatihnya agar bisa berlari kencang termasuk mulai memberikan jamu. Khusus untuk pelatihan membutuhkan tenaga trampil yang dibayar Rp700.000 per minggu atau Rp8,4 juta per 3 bulan. Sedangkan untuk jamu wajib dianggarkan biaya Rp3 juta per bulan, atau Rp9 juta per 3 bulan. Jika ditotal, yaitu biaya pembelian bibit, biaya pelatihan dan biaya untuk jamu untuk 2 ekor mencapai Rp47,4 juta.

Modal tersebut belum menghitung biaya pakan dan jasa, karena Bapak Sannah mencari pakan dan merawatnya sendiri. Bibit sapi hasil rawatannya akan dijual kepada para pencinta karapan sapi, dengan keuntungan antara Rp 60 juta hingga Rp 100 juta per 2 ekor selama tiga bulan.

Keuntungan ini bisa berlipat ganda, jika diujicoba di sirkuit Kerapan Sapi. Apabila bisa menjadi juara di Pulau Sapudi, harga jualnya berkisar antara Rp 100 juta hingga Rp 200 juta per ekornya. Apalagi jika menjadi juara di tingkat Kabupaten Sumenep, harga jualnya bisa mencapai Rp 300 juta hingga Rp 500 juta per ekor.

Bisnis yang luar biasa bukan?

Kenali Tingkatan Kualitas dan Ciri Daging Wagyu yang Asli

Wagyu terkenal karena kualitas dan harganya yang mahal. Belakangan semakin banyak bermunculan daging wagyu tiruan yang seolah dengan sengaja mengecoh pembeli. Nah, agar Anda tidak salah beli, sebaiknya mulai kenali tingkatan kualitas dan ciri daging wagyu yang asli. Baca selengkapnya...

Lebih Mudah Dapat Cuan Dari Usaha Sapi Jika Perlengkapan Kandangnya Komplit, Apakah Anda Tau Cuan Artinya Apa?

"Cuan" adalah kata dari bahasa Hok-kian, salah satu suku di Tiongkok. Suku tersebut mayoritas masyarakatnya gemar merantau ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hadirnya suku Hok-kian ini sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat, karena terjadi akulturasi budaya yang menghasilkan berbagai macam hal termasuklah bahasa. Contohnya adalah istilah Gue, Lu, hingga ke kata cuan. Cuan artinya apa? Baca selengkapnya...

Bikin Gepuk Daging Sapi Khas Sunda, Jangan Pakai Bagian Has Dalam!

Gepuk adalah makanan khas sunda yang terbuat dari daging sapi,terasa sedikit manis dan gurih. Biasanya gepuk dibuat dengan daging sapi yang diiris searah dengan serat daging dan direbus setengah matang, kemudian di pukul pukul hingga agak empuk. Daging yang sudah empuk direndam kedalam bumbu yang dicampur dengan santan, kemudian direbus kembali hingga air santan menyusut. Jika akan disajikan goreng gepuk dengan sedikit minyak hingga kecokelatan dan angkat. Gepuk akan lebih enak di santap dengan… Baca selengkapnya...

Serba-serbi Bisnis Keripik Paru Sapi

“Jeroan” adalah istilah yang diberikan bagi olahan makanan dari organ dalam suatu hewan. Di Indonesia, jeroan cukup populer dan digunakan dalam berbagai bahan masak, mulai dari masakan santai seperti bubur, soto, campuran untuk nasi goreng, nasi uduk, hingga menjadi menu utama pendamping nasi.Jeroan dapat menjadi alternatif untuk lauk daging karena berbagai hewan lazim dikonsumsi jeroannya, kecuali ikan. Salah satu jeroan favorit masyarakat Indonesia adalah paru sapi. Baca selengkapnya...