RAGAM INFORMASI

TENTANG DUNIA PERSAPIAN

Tuberkulosis Adalah Penyakit Sapi Yang Salah Satu Gejalanya Bisa Dipantau Dengan Alat Pendeteksi Suhu tubuh

Alat pendeteksi suhu tubuh banyak ragamnya, antara lain Termometer Tembak. Namanya menggunakannya kata dasar "tembak", karena cara memakainya dengan mengarahkan alat tersebut ke obyek yang akan diukur suhunya.  Dari dalam alat tersebut akan muncul sinar laser yang berfungsi untuk menunjukkan sasaran yang tepat. 

Tidak seperti termometer konvensional yang menggunakan medium cairan (alkohol/raksa) atau sensor, alat pendeteksi suhu tubuh yang disebut sebagai termometer tembak tersebut bekerja dengan menggunakan sinar inframerah yang dipancarkan oleh objek yang akan diukur suhunya.

Sinar inframerah tersebut nantinya akan menembus lensa termometer dan dihantarkan ke sebuah alat pendeteksi suhu tubuh yang disebut thermopile. Modul thermopile selanjutnya akan mengubah pancaran radiasi tadi menjadi energi panas untuk kemudian dikonversikan menjadi energi listrik. Energi listrik inilah diukur oleh termometer tembak yang hasilnya berupa besaran suhu yang ditampilkan di layar alat tersebut.

Kelebihan dari alat ini selain praktis juga dapat mengukur suhu dalam hitungan detik. Namun kekurangan dari alat pendeteksi suhu tubuh sistem tembak ini adalah akurasinya. Ketepatan alat ini tergantung jaraknya dengan objek yang akan diukur. Maksudnya semakin dekat akan semakin akurat.

Dalam penggunaanya, termometer tembak tidak hanya dipakai untuk mendeteksi suhu tubuh manusia saja, tetapi mesin industri, termasuk mencari titik panas yang menjadi pusat api pada suatu kebakaran, bahkan juga dapat digunakan untuk mengukur suhu tubuh hewan seperti sapi.

Sapi perlu diukur suhunya pada saat menampakkan beberapa gejala penyakit, seperti Tuberkulosis yang pada tahap lanjutannya terjadi peningkatan  suhu tubuh yang fluktuatif terutama pada malam hari.

Penyakit ini sangat berbahaya karena bersifat zoonosis, artinya dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Penularannya melalui produk hasil ternak terutama susu. Penyebab Tuberkulosis adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, dengan ciri sebagai berikut:

  • Tergolong pada kelompok bakteri gram positif yang berbentuk batang dengan ukuran 1,5 – 2 mikron.
  • Tahan terhadap asam, alkohol, dan desinfeksi.
  • Didalam tubuh, bakteri ini menyukai tempat yang banyak mengandung oksigen seperti paru-paru.
  • Berkembang dalam waktu yang lama (bulanan hingga tahunan).

 

Penularannya tergolong masiv, karena bakteri ini mampu bertahan selama beberapa jam dalam dahak yang dikeluarkan saat sapi batuk.  Selain melalui udara, penularan bakteri ini juga melalui makanan dan minuman yang telah tercemar.

Sapi yang terinfeksi bakteri tuberkulosis, jika masih tahap awal gejala klinisnya tidak tampak. Namun saat sudah dalam tahap lanjutan akan terlihat gejala sebagai berikut:

  • Suhu tubuhnya tinggi.
  • Sesak napas.
  • Batuk-batuk.
  • Nafsu makan menurun.
  • Berat badan menurun drastis.
  • Pada sapi perah disertai pembengkakan pada puting susu.

Pemeriksaan sapi yang terkena tuberkulosis harus melalui uji laboratorium, karena sapi berusia muda yang kena penyakit ini, gejalanya sulit terlihat dibandingkan dengan sapi yang sudah tua. Di kandang, bakteri ini berkembang biak dengan sangat cepat bila kondisinya lembab karena jarag dibersihkan dan tidak terkena matahari langsung.

Pengobatan dan Pencegahan

  • Cara mencegah dan mengobati tuberkulosis adalah segera melakukan karantina pada sapi yang sakit dan menghubungi dinas kesehatan setempat untuk melakukan  uji tuberculin. Jika sapi tersebut positif terinfeksi tuberkulosis, berikan obat antibiotik untuk menghentikan siklus hidup bakteri.
  • Sebaiknya hewan yang sudah terinfeksi disembelih kemudian dibakar.
  • Upaya pencegahan infeksi M. Bovis ke manusia dapat dilakukan dengan pasteurisasi susu (bakteri M. Bovis dalam susu akan mati pada suhu pasteurisasi), vaksinasi BCG, dan melakukan pengendalian serta eradikasi.
  • Sapi-sapi di peternakan perlu diuji tuberculin secara berkala.

 

Mencegah tentu lebih baik daripada mengobari, karena saat sapi menunjukkan gejala tuberkulosis biasanya sudah terjadi penularan pada sapi-sapi yang lain. Tidak ada salahnya peternak selalu menyediakan alat pendeteksi suhu tubuh, sebagai upaya untuk menyelamatkan usahanya.

Mengenal Jenis Sapi Penghasil Daging Wagyu

Wagyu dalam bahasa Jepang memiliki arti Sapi Jepang. Artinya, sapi jenis ini hanya dapat ditemukan di Negeri Sakura saja. Uniknya, tidak semua sapi potong khas Jepang merujuk pada jenis sapi penghasil daging wagyu. Baca selengkapnya...

Sentra Peternakan Rakyat Untuk Investasi Sapi Perah Jenis Milking Shorthorn

Kementerian Pertanian dibawah pimpinan Amran Sulaiman pernah mengeluarkan berbagai macam terobosan yang bertujuan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. Salah satunya adalah Sentra Peternakan Rakyat (SPR). Apakah yang dimaksud dengan Sentra Peternakan Rakyat, dan apa hubungannya dengan sapi perah jenis Milking Shorthorn? Baca selengkapnya...

Kisah Kemunculan Daging Wagyu dari Indonesia

Penggemar kuliner daging dan steak pasti sudah tahu bahwa wagyu tidak selalu berasal dari Jepang. Selain Negeri Sakura, daging premium yang kaya akan lemak tak jenuh ini juga dibudidayakan di Amerika dan Australia. Bahkan, daging wagyu dari Indonesia pun mulai menarik perhatian belakangan ini. Baca selengkapnya...

Perbedaan Daging Wagyu Jepang, Amerika, dan Australia

Ketika bersantap di sebuah restoran steak, Anda pasti akan menemukan banyak sekali pilihan daging wagyu dari berbagai negara. Keberadaan wagyu asal Amerika dan Australia seolah telah menggeser daging asal Negeri Sakura. Selain harganya yang lebih mahal, sebenarnya apa sih perbedaan daging wagyu Jepang dengan kedua negara tersebut? Baca selengkapnya...

Inilah Orang Indonesia Pemilik Peternakan Sapi Terbesar Yang Berlokasi Di Australia

Nama Nisin Sunito beberapa waktu lalu sempat ramai diperbincangkan di kalangan jajaran pengusaha besar di Tanah Air. Bagaimana tidak, dirinya disebut-sebut memiliki sebuah usaha peternakan sapi terbesar di Australia yang luasnya mencapai dua kali Pulau Bali. Diketahui juga, dirinya merupakan satu-satunya orang Indonesia yang memiliki usaha peternakan raksasa di negeri penghasil wol tersebut. Baca selengkapnya...