RAGAM INFORMASI

TENTANG DUNIA PERSAPIAN

Setelah Menjadi Pelaku Bisnis Sapi, Pria Ini Bisa Beli Mobil Hingga Naik Haji

Sukses tak datang dengan tiba-tiba. Ungkapan ini sangat pas untuk menggambarkan perjuangan pelaku bisnis sapi yang satu ini. Adalah Sayfudin Zuhri, pria asal Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur yang kini sudah bisa meneguk manisnya keuntungan dari beternak sapi. Meski demikian, proses untuk menjadi seorang peternak sapi sukses tidak singkat.

Dibutuhkan waktu 13 tahun bagi Sayfudin hingga akhirnya hasilnya tampak. Berkat bisnis ternak sapi, pria yang akrab disapa Sutrikno itu pun akhirnya bisa membeli mobil bahkan hingga naik haji. Perjalanan Sayfudin hingga menjadi pelaku bisnis ternak seperti saat ini sama sekali tidak instan. Niatnya untuk bergelut di bisnis tersebut sudah ada sejak 1987 saat ia masih berusia 22 tahun.

Ia ingin mengikuti jejak orang tuanya menjadi peternak sapi perah. Tak sekedar ingin, ia pun mengimbanginya dengan menimba ilmu dari orang tuanya. Semua hal yang berkaitan dengan dunia ternak sapi perah pun ia pelajari, mulai dari pakan, kebersihan kandang, cara memerah susu, hingga perawatan sapi agar menghasilkan produk susu berkualitas. Ia pun memiliki prinsip untuk menjadi peternak sapi perah yang memiliki nilai lebih dan bukan sekedar seperti kebanyakan peternak serupa.

Di tahun ke-7 sejak ia ‘berguru’ dengan pelaku bisnis sapi yang tak lain adalah orang tuanya kala itu, Sayfuddin sudah bisa memiliki 7 ekor sapi dari awalnya hanya berbekal 2 ekor sapi Proses penambahan jumlah sapi itu pun bertahap. Melalui kredit dari BNI Syariah, Sayfudin mendapatkan pinjaman Rp 20 juta yang akhirnya digunakan untuk membeli beberapa ekor sapi hingga jumlahnya menjadi 12 ekor.

Tak puas dengan jumlah tersebut, ia lantas mengajukan pinjaman lagi kala itu sebesar Rp 60 juta untuk menambah jumlah sapi peliharaannya, sehingga menjadi 25 ekor. Dari jumlah tersebut, usaha sapi perahnya terus berkembang dan akhirnya bisa menembus angka 50-an ekor. Begitu banyak sapinya, hingga kebunnya pun tak muat.

Lahannya yang ‘hanya’ berukuran 4 hektar tak mampu menampung seluruh sapi-sapinya, sehingga ia menitipkan sapi-sapinya ke orang lain dengan sistem bagi hasil. Sementara yang ia pelihara sendiri hanya 12 ekor sapi. Dengan bisnis demikian itu, pundi-pundi Sayfuddin pun perlahan mulai terisi dan semakin buncit. Perekonomian keluarga pun semakin membaik.

Ayah tiga anak itu bahkan mampu membeli rumah, kebun dan mobil dari hasil bisnis jual beli sapi itu. Pencapaian yang membanggakan lagi, berkat bisnis tersebut, ia pun mampu berangkat ke Tanah Suci dan menunaikan ibadah Haji.

Meski sudah merasakan hasil jerih payah sebagai pelaku bisnis sapi selama lebih dari satu dasawarsa, ayah tiga orang anak itu pun tak lantas berpuas diri. Ia ingin agar sapi peliharaannya jumlahnya terus meningkat agar usahanya semakin maju. Ia mengatakan bahwa usaha sapi perah bakal semakin prospektif. Hal ini dilandasi pertimbangan kebutuhan susu murni nasional terus meningkat.

Dengan demikian, kondisi ini merupakan ceruk yang bagus bagi para pebisnis sapi perah seperti dirinya. Meski demikian, tak dipungkiri pula bahwa dalam menjalani profesi sebagai peternak sapi, masih mengalami banyak kendala. Salah satu kondisi pahit yang harus dihadapi dirinya dan para pelaku bisnis senada adalah anjloknya harga susu sapi di tingkat koperasi.

Dalam kondisi ini, tak banyak pilihan yang bisa diambil oleh peternak. Sayfudin bahkan mengatakan jika kondisi lebih buruk lagi saat sapi bunting, karena berimbas pada produksi susu yang menurun. Menghadapi kondisi demikian, Syafudin yang sudah cukup makan garam sebagai pelaku bisnis ini pun melakukan manuver.

Dibandingkan sekedar berkutat pada masalah harga jual susu yang anjlok, ia lebih memilih mencari pemasukan dari sumber lain atau setidaknya mampu mengurangi biaya perawatan. Cara itu dilakukan dengan berinovasi dari kotoran sapi. Kotoran sapi yang sejatinya hanya sampah dan paling banter menjadi pupuk, oleh Sayfudin disulap menjadi bahak baku energi biogas.

Usaha ini setidaknya membuahkan hasil yaitu menghemat biaya penerangan kandang sapu dan rumah. Secara terperinci disebutnya, setidaknya Rp 10 ribu mampu dihemat per hari untuk biaya penerangan tersebut berkat penggunaan energi bio gas. Ciamiknya lagi, limbah biogas pun masih bisa diolah menjadi pupuk.

Inovasinya tak behenti sampai di sini saja. Ia pun memfungsian kebun seluas 4 hektar yang dimilikinya tak sekedar menjadi kandang ternaknya, tetapi juga untuk bertanam kopi robusta. Dengan demikian, ada hasil yang diperolah dari bisnisnya selain dari ternak sapi.

Lama malang melintang sebagai pelaku bisnis sapi perah, Sayfudin pun akrab dengan banyak permasalahan. Menghadapi berbagai masalah tersebut, ia berpesan agar selalu kreatif jika tidak ingin stagnan.

“Kita harus kreatif dengan segala masalah yang ada. Kalau tidak, ya enggak akan maju-maju. Petani atau peternak seperti kebanyakan enggak akan bisa menikmati jerih payahnya,” pesannya seperti dikutip dari economy.okezone.com.

Waspadai Sesak Nafas Akut Pada Sapi

Sapi yang mengalami sesak napas akut besar kemungkinan terkena penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR). Penyakit menular ini banyak menyerang ternak sapi, baik sapi potong maupun sapi perah. Sapi yang terkena IBR ini biasanya mengalami demam tinggi (sekitar 42 derajat Celsius), nafsu makan menurun, hipersaliva, produksi air susu menurun (pada sapi perah), dan penurunan berat badan yang drastis. Baca selengkapnya...

Obat Murah Meriah Untuk Sapi Mencret

Cara mengatasi sapi yang terkena penyakit, yang harus dilakukan pertama kali adalah menghilangkan penyebab penyakit dan mengatasi efek yang ditimbulkan. Contohnya adalah Diare, penyakit yang membuat sapi menjadi sering buang air besar dengan kondisi tinja yang encer atau berair (mencret). Diare pada sapi umumnya disebabkan oleh beberapa faktor fisiologis berupa perubahan lingkungan ternak, yang meliputi: perubahan pakan, perpindahan ternak, perubahan cuaca, dan pergantian pemeliharaan. Baca selengkapnya...

Mengenal Sapi Simental yang Jadi Primadona di Indonesia

Sapi Simental – Di Indonesia terdapat banyak macam sapi yang dibudidayakan. Baik untuk sapi pedaging atau sapi perah. Salah satu jenis sapi yang cukup terkenal di kalangan peternak adalah sapi Simental. Baca selengkapnya...

Sapi Belgian Blue Harganya Berapa?

Sejak beberapa tahun lalu pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya mengembangbiakkan sapi berjenis belgian blue. Sapi satu ini disebut-sebut termasuk jenis sapi unggul dengan harga jual yang tinggi. Sapi belgian blue merupakan sapi yang berasal dari Belgia Tengah, Belgia. Sapi Belgia adalah hasil proses panjang kawin silang dan “selective breeding” selama hampir 200 tahun dari pengembangan hasil “cross breeding” sapi Durham Shorthorn dari Inggris dan Friesian… Baca selengkapnya...

Gejala Dan Penanganan Broyong (Prolapsus Uteri) Pada Sapi

Gangguan reproduksi yang umum terjadi pada sapi diantaranya prolapsus uteri (Broyong) yang sering terjadi pada umur kebuntingan tua. Apabila gangguan reproduksi ini tidak dapat tertangani maka dapat menyebabkan kerugian ekonomi pada usaha peternakan. Baca selengkapnya...
  • Bali Cattle National Asset that Needs to be Preserved

    The government needs to increase the population and productivity of Bali cattle, a national asset other countries do not have, an expert has said. The Bogor Agricultural Institute’s (IPB) animal husbandry professor Ronny Rachman Noor said on Thursday that Bali cattle had often been undervalued by the government because they were local livestock.