RAGAM INFORMASI

TENTANG DUNIA PERSAPIAN

Yudi Guntara, Peternak Yang Sukses Menerapkan Konsep Bisnis Dari Hulu Hingga Hilir

Nama Yudi Guntara Noor tidak akan terlewatkan ketika berbicara tentang topik pengusaha sukses di bidang peternakan dan organisator ulung.  Alumnus SMPN 2 Tasikmalaya, SMAN 2 Tasikmalaya dan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran ini memang tak dapat dipisahkan dari kegiatan berorganisasi.

Jabatan-jabatan yang pernah disandangnya antara lain:

  1. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI)
  2. Sekretaris Dewan Penyantun Universitas Padjadjaran (UNPAD)
  3. Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Peternak Domba & Kambing Indonesia (DPD HPDKI) Jawa Barat
  4. Wakil Ketua Komite Tetap Industri Peternakan KADIN INDONESIA
  5. Anggota Dewan Asosiasi Produsen Daging & Feedlot Indonesia (Board of APFINDO)
  6. Ketua Forum Peternak Budidaya Penggemukkan Sapi Jawa Barat
  7. Anggota Komite Sekolah SMA N 2 Tasikmalaya

Sosok penyuka olahraga bersepeda dan penggemar sepeda lipat ini memang selalu menginspirasi. Kiprahnya selama ini memang tidak jauh-jauh dari bidang peternakan khususnya sapi. Seperti beberapa waktu yang lalu, ketika mencuat isu rencana pemerintah memasukan daging asal Brasil, pria asli Bandung ini dengan tegas menolaknya

Tak mengherankan, mengingat beliau adalah pebisnis sukses yang bergerak dibidang usaha penggemukan sapi dan  pemasok daging sapi. Apalagi Yudi termasuk anggota dan pengurus beberapa komunitas peternak sapi, seperti di GAPUSPINDO (Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia) dan PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia).

Perkenalannya di dunia peternakan, dimulai saat berkuliah di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Bandung. Kemudian turun langsung kelapangan di bisnis ayam broiler. Inspirasi untuk terjun di bisnis peternakan berasal dari  seorang tokoh perunggasan, yaitu Adjat Darajat, pengusaha broiler sukses asal Ciamis.

Setelah mendapatkan pengalaman di bisnis broiler, Yudi menambah wawasannya dengan bekerja di  PT Lintas Nusa, yang bergerak di penggemukan sapi potong. Dari dua komoditas peternakan itu, Yudi menganggap bahwa bisnis ayam sudah mencapai titik jenuh, apalagi sudah ada beberapa industri skala besar yang berkecimpung disana. Kondisi tersebut pada saat itu belum terjadi bisnis sapi. Potensinya masih terbuka lebar, karena  baru segelintir perusahan besar seperti Tippindo, GGLC dan LJP yang masuk kesitu.

Itu sebabnya pada tahun 1995, Yudi mendirikan PT Agronandini Perdana, untuk mengimpor sapi dari Australia. Untuk menggemukkannya, Yudi membangun kandang di daerah Malangbong dengan kapasitas 300 – 400 ekor. Baru berjalan beberapa tahun, krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998. Kurs dollar naik tinggi. Akibatnya, beberapa perusahaan besar mengalami masalah keuangan yang cukup berat.

Namun tidak demikian halnya dengan peternakan skala kecil seperti milik Yudi, ia mengaku dapat bertahan. Bahkan momen tersebut dijadikan alat untuk membesarkan perusahaannya, hingga nantinya bisa menjadi perusahaan penggemukan sapi nomer dua terbesar secara nasional.  Caranya adalah bekerjasama dengan pihak Australia yang kesulitan memasarkan sapinya di Indonesia karena tidak ada perusahaan yang mampu membeli dengan nilai kurs yang luar biasa tinggi.

Yudi kemudian membentuk perusahaan baru, yaitu PT Citra Agro Buana Semesta (CABS), hanya dengan modal jaringan penjualan yang dimilikinya, Yudi kemudian menawarkan jaminan pasar atas sapi-sapi yang dikirimkan dari Australia. Ternyata penawaran ini disambut baik dan Yudi sukses menjual 50 ribu ekor sapi yang diimpor PT Santori jumlahnya  mencapai 70 ribuan.

Bahkan untuk meningkatkan kapasitasnya, Yudi menyewa kandang Tippindo-Lampung yang mangkrak (tidak beroperasi). Kerjasama ini berjalan selama 3 tahun, sampai dengan tahun 2002. Namun demikian, kisah sukses itu tidak membuatnya bangga, karena menurut Yudi, posisinya hanyalah sebagai 'kacung' yang menjual barang milik orang lain.

Pada tahun 2002, Yudi memutuskan untuk meninggalkan bisnisnya di Lampung dan kembali membesarkan usahanya di Malangbong. Berkat tangan dinginnya, kini kapasitas kandang di Malangbong telah meningkat lebih dari 10 ribu ekor, dengan perputaran tak kurang dari 36 ribu ekor sapi per tahunnya.

Kepiawaiannya berbisnis sapi mulai diuji lagi ketika mendapat tekanan dari daging yang diimpor oleh Pemerintah untuk menurunkan harga yang dinilai sudah terlalu tinggi. Ia pun melakukan diversifikasi usaha di bidang pembibitan domba, dengan tujuan utama untuk memurnikan keturunan domba garut. Ada ribuan domba yang dipelihara dikandang Malangbong.

 

Yudi Guntara dan Presiden Republik Indonesia Joko WidodoMemilih domba sebagai komoditas untuk diversifikasi usaha bukan tanpa alasan. Berawal dari strategi pemasaran sapi miliknya, dimana salah satu pelanggannya adalah penggemar kambing-domba. Yudi mulai mencoba mengenali domba, sebagai pendekatan untuk mendapatkan order pesanan. Akan tetapi pada akhirnya justru Yudi yang kepincut memelihara domba. 

Kultur masyarakat Jawa Barat, memang  tidak terlepas dari jenis ternak tersebut. Peternak kambing-domba itu berada pada level grass root, tersebar di pedesaan dengan berbagai masalah yang kompleks. Maka ketika diminta menjadi pengurus HPDKI (Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia) Yudi tidak menampiknya. Meski bekerja di asosiasi yang mengurusi peternak jauh lebih rumit dibandingkan sebagai pengusaha, tapi ada sesuatu yang didapat yang nilainya melebihi uang.

Dan karena posisinya itu pula, Wakil Ketua Bidang Budidaya Peternakan Kadin Indonesia ini kian lantang menyuarakan penolakannya rencana pemerintah memasukkan daging asal negara belum bebas PMK. Karena kambing-domba termasuk hewan kuku genap yang juga punya risiko tinggi tertular.

Yudi mengatakan selain mampu meningkatkan kualitas perekonomian, domba garut juga berpotensi mengangkat Garut dan Indonesia di dunia internasional. Alasannya, domba garut adalah satwa khas atau plasma nutfah asli Indonesia.

Tak puas bekerja sebagai pengusaha ternak di bagian hulu, pada awal tahun 2019 Yudi kembali mencoba tantangan baru di bagian hilir, dengan membuka restoran yang menjual hasil dari usaha ternaknya. Diberi nama "It's Nice to Meat You".  Menunya tidak banyak, karena hanya fokus pada daging sapi dan domba, pasta, soup dan dessert, tapi jangan tanya kelezatannya.  Restoran tersebut kini juga mendulang sukses, karena  menjadi tujuan utama para pencinta daging yang sedang berada di Bandung.

sukses yudi guntara 3"A place where you’ll meet your first fun Dorper lamb eating experience. The signature Dorper Lamb Leg is the only menu you need to bring everyone together. Here you also can discover the amazing taste of fresh, halal beef straight from our farm to the table, specialized on Wagyu. Try Tomahawk menu from THE MIGHTY MEAT section for you, the beef lovers. Big portion, big pleasure for everyone! Of course with the welcoming, feisty ambiance for everyone." .... whatsnewindonesia.com

 

Sumber: unpad.ac.id

Perbandingan Harga Sapi Limosin dan Simental, Mana Yang Lebih Mahal?

Di Indonesia ada 2 jenis sapi yang sangat populer karena performa dan bobotnya yaitu sapi Simental dan sapi Limosin. Tampilan kedua jenis sapi ini memang terlihat lebih gempal dan bongsor jika dibandingkan dengan sapi lokal, sehingga ‘menggoda’ mata para pedagang daging dan pemburu hewan kurban. Baca selengkapnya...

Sapi Belgian Blue Harganya Berapa?

Sejak beberapa tahun lalu pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya mengembangbiakkan sapi berjenis belgian blue. Sapi satu ini disebut-sebut termasuk jenis sapi unggul dengan harga jual yang tinggi. Sapi belgian blue merupakan sapi yang berasal dari Belgia Tengah, Belgia. Sapi Belgia adalah hasil proses panjang kawin silang dan “selective breeding” selama hampir 200 tahun dari pengembangan hasil “cross breeding” sapi Durham Shorthorn dari Inggris dan Friesian… Baca selengkapnya...

Penyakit Demam Tiga Hari Pada Sapi, Meski Ringan Namun Merugikan

Nyamuk ternyata tidak hanya mengisap darah manusia, tetapi juga hewan ternak seperti sapi. Tak sekedar mengisap darah, nyamuk tersebut juga menularkan Penyakit Demam Tiga Hari pada sapi, atau dalam Bahasa ilmiahnya disebut sebagai Bovine Ephemeral Fever (BEF), dan dalam Bahasa Inggris sebagai Three Days Sickness. Banyak juga peternak yang menggunakan istilah gomen untuk menyebut penyakit ini. Meski tidak terlalu berat, penyakit ini dapat membuat kerugian cukup besar pada peternak sapi, karena… Baca selengkapnya...

Gejala Dan Penanganan Broyong (Prolapsus Uteri) Pada Sapi

Gangguan reproduksi yang umum terjadi pada sapi diantaranya prolapsus uteri (Broyong) yang sering terjadi pada umur kebuntingan tua. Apabila gangguan reproduksi ini tidak dapat tertangani maka dapat menyebabkan kerugian ekonomi pada usaha peternakan. Baca selengkapnya...

Berapa Jumlah Pakan Yang Harus Diberikan Untuk Sapi Dengan Berat 200 Kg?

Seorang peternak sapi wajib mengetahui jenis pakan sapi potong ternak yang paling tepat, tidak hanya dari segi harga, tapi juga bisa menghitung nutrisi dengan mempertimbangkan kebutuhan dari ternak yang dipeliharanya. Empat kunci penting dalam menyusun ransum ternak, yaitu bahan bakunya mudah diperoleh, bahan pakan bervariasi, disukai oleh ternak, dan harganya juga terjangkau. Baca selengkapnya...
  • Bali Cattle National Asset that Needs to be Preserved

    The government needs to increase the population and productivity of Bali cattle, a national asset other countries do not have, an expert has said. The Bogor Agricultural Institute’s (IPB) animal husbandry professor Ronny Rachman Noor said on Thursday that Bali cattle had often been undervalued by the government because they were local livestock.